
Yang aku inginkan hanyalah menjadi populer dan mempunyai teman-teman yang keren. Aku ingin bergabung dengan band musik rock dan berkencan dengan pria yang paling ganteng. Semua itu keinginan-keinginan yang wajar dari seorang gadis remaja macam aku. Sebagian dari mimpi-mimpiku menjadi kenyataan. Aku bergabung dengan band musik rock. Dan cowok paling imut di sekolahku mengajakku kencan. Aku tentu saja menjawab ya.
Tetapi seminggu kemudian dia mengeluh, "Pinggulmu terlalu besar. Kamu perlu menurunkan berat badanmu supaya terlihat seperti cewek-cewek lain di pantai dan di band musikmu". Aku segera mencoba bermacam-maca diet. Salah satunya adalah aku hanya makan buah anggur dan sayuran dan akhirnya aku merasa lemas karenannya. Aku harus makan 'makanan yang sebenarnya'. Pada minggu kedua, aku tidak makan pagi dan malam. Alhasil, aku kelaparan menjelang makan malam. Aku makan sepuasnya hingga berat badanku naik. Aku naik 5 kg dalam sebulan. Aku coba menyenangkan pacarku.
Atas usahaku itu, bukan pujian yang kudapat. Pacarku semakin menghancurkanku. "Kamu seperti ikan paus", katanya, membuatku semakin jelek dibandingkan teman-temanku yang ingin mengencaninya. Aku sadar itu dan tidak ingin kehilangannya. Jadi aku berusaha mencari cara untuk menurunkan berat badanku yang telah menyebabkan dia menjauh dariku. Beratku 55 kg. Benar-benar gendut! Untuk menurunkan berat badanku, aku mulai memuntahkan makanan yang kumakan. Banyak yang melakukan hal yang sam di sekolahku dan mereka tidak apa-apa. Aku juga akan baik-baik saja.Aku hanya ingin secantik model. Aku ingin pacarku memandangku sebagaimana dia memandang poster-poster cewek berbikini.
Tiga kali sehari aku muntah. Aku kekurangan gizi dan terus-menerus merasa lapar. Akibatnya, aku makan lebih banyak dan lebih sering muntah. Saat berat air di tubuhku bertambah dan saat aku ingin menghentikan kebiasaan buruk ini, barulah aku sadar bahwa aku tidak bisa menghentikannya. Setiap kali aku beranjak dari kursi makan, perutku langsung kejang, seakan-akan sudah mengerti apa yang selanjutnya harus dikerjakan. Aku harus cepat menjauh dari meja makan dan memuntahkan makanan yang baru saja kumakan tanpa kuhendaki dan tanpa harus mencolok tenggorokanku dengan jari.
Aku tidak lagi terkontrol, berat badanku atau hidupku. Tidak seorang-pun yang pernah memberitahuku bahwa memuntahkan makanan secara terus-menerus setelah makan dapat menyebabkan penimbunan air, kerontokan rambut, kerusakan email gigi, penyakit perut yang serius, dan yang lebih buruk lagi, kebiasaan itu tidak bisa di hentikan. Aku membutuhkan pertolongan. Pacarku dan berat badanku tidak terlalu kepikirkan lagi. Pada usiaku yang lima belas tahun, aku tidak tahu harus berbuat apa.
Aku ingin mendapat jalan keluarnya. Aku menangis dan mempercayakan masalahku kepada satu-satunya orang yang kupercaya. "Ibu, aku sakit. Aku memuntahkan makanan untuk menurunkan berat badan. Sekarang, setiap hari aku selalu muntah. Aku tidak bisa berhenti dan aku takut mati". Aku mengunci diri di kamar semalaman. Besoknya, ibu membangunkanku dan mengajakku menemui dokter. Setelah kunjungan pertama ke dokter, aku langsung masuk rumah sakit.
Kerja darahku menunjukkan bahwa aku menderita dehidrasi dan kelaparan. Aku ditahan di rumah sakit selama berbulan-bulan. Aku merasa sepi sendiri. Aku rindu sekolah. Untuk mengejar ketinggalan di sekolah, aku harus belajar dengan guru pribadi. Penyakit bulimia yang kuderita baru bisa dikendalikan setelah bermacam-macam obat kuminum dan berbulan-bulan masa penyuluhan kuikuti. Pacarku telah meninggalkanku. Dia memutuskanku, karena menurutnya kencan di rumah sakit tidak menyenangkan. Kebanyakan teman-temanku tidak mengerti apa yang kualami dan berhenti menengokku.
Bahkan, ada anggota keluargaku yang menggapku mengada-ada dengan kondisiku ini. Hal itu sagat menyakitkan. Namu akhirnya aku sembuh. Aku merasa tenang. Perlu waktu setahun masa pengobatan dan penyuluhan untuk membuatku sadar bahwa tidak ada gunanya berteman dengan orang yang tida bisa menghargai kita apa adanya. Aku mendapatkan pelajaran berharga itu dengan susah payah. Pelajaran itu akan selalu kuingat. Menjadi populer adalah suatu hal yang sifatnya palsu. Kalau aku sudah merasa cukup dengan apa yang kumiliki, aku tidak perlu memikirkan pendapat orang lain tentang diriku.
Jika kamu mencintai dirimu dan kamu memiliki keyakinan pada diri sendiri, kamu termasuk dalam kelompok siswi yang populer.





















